Korban Penggusuran Lahan Perumnas Pulogebang Akan Direlokasi ke Rusun Seruni Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Korban Penggusuran Lahan

JAKARTA, KOMPAS.com – Korban penggusuran lahan Perumnas di Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur, mengaku akan direlokasi ke Rumah Susun (Rusun) Seruni Pulogebang. Mamat (54), salah satu korban mengungkapkan, ada sekitar 50 KK yang akan dipindahkan ke rusun tersebut.  “Asal dipindahkan dengan layak kita siap saja. Nanti pindah ke Rusun Seruni, semuanya pindah ke sana,” ungkap Mamat saat ditemui Kompas.com, Rabu (12/2/2025). Mamat menjelaskan, dirinya dan warga terdampak lain sudah didata oleh pihak Perumnas dan Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

Mamat sendiri sudah tinggal di lahan tersebut sejak tiga tahun lalu. Mamat bercerita, mulanya ia membeli rumah dari seorang yang mengaku ahli waris tanah di lahan itu. Dari pembelian tersebut, Mamat mendapat akta jual beli (AJB). Namun, Mamat baru mengetahui AJB itu bodong usai mendapat surat dari PN Jakarta Timur yang menyatakan bahwa lahan tempat rumahnya berdiri milik Perumnas. “Ada surat, walaupun itu bodong AJB. Ya jelas-jelas dibohongin, dibohongin dua kali ini,” kata Mamat.

Mamat bilang, ia membeli rumah tersebut seharga Rp 150 juta secara tunai dari orang yang mengaku ahli waris. Uang yang dia pakai membeli rumah didapat dari pinjaman bank. “Rp 150 juta, lima tahun pinjamnya, baru jalan 2 tahun,” ungkap Mamat. Sebelumnya, Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur menggusur sejumlah bangunan yang berdiri di lahan milik Perumnas di Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur, Rabu (12/2/2025). Proses penggusuran ini diwarnai tangisan dari warga yang tergusur. Pengamatan Kompas.com di lokasi, bangunan yang digusur ini terdiri dari rumah tinggal, lapak barang bekas dan kolam tempat pemancingan umum. Total lahan yang dieksekusi ini seluas 38.000 meter persegi.

Bangunan-bangunan permanen dan semi permanen itu dirobohkan menggunakan empat ekskavator. Proses eksekusi yang dilakukan PN Jakarta Timur ini menuai protes dari warga yang menghuni bangunan-bangunan itu. Mereka mengaku tidak ada sosialisasi dari pihak terkait sebelum terjadinya penggusuran. Sejumlah ibu-ibu terlihat menangis histeris melihat bangunannya dihancurkan oleh ekskavator. Sambil menangis, ibu-ibu itu berteriak agar para petugas menghentikan proses pengosongan lahan ini.

 


Nama Sumber : Kompas.com